Sabtu, 15 Maret 2014

KONSEP PENALARAN ILMIAH DALAM KAITANNYA DENGAN PENULISAN ILMIAH


Pengertian Penalaran 
Penalaran adalah proses berpikir yang bertolak dari pengamatan indera (pengamatan empirik) yang menghasilkan sejumlah konsep dan pengertian. Berdasarkan pengamatan yang sejenis juga akan terbentuk proposisi-proposisi yang sejenis, berdasarkan sejumlah proposisi yang diketahui atau dianggap benar, orang menyimpulkan sebuah proposisi baru yang sebelumnya tidak diketahui. Proses inilah yang disebut menalar.

Pengertian Penulisan Ilmiah
Penulisan Ilmiah adalah karya tulis yang disusun oleh seorang penulis berdasarkan hasil-hasil penelitian ilmiah yang telah dilakukannya. Dari definisi yang lain dikatakan bahwa karya ilmiah (scientific paper) adalah laporan tertulis dan dipublikasi yang memaparkan hasil penelitian atau pengkajian yang telah dilakukan oleh seseorang atau sebuah tim dengan memenuhi kaidah dan etika keilmuan yang dikukuhkan dan ditaati oleh masyarakat keilmuan.
Dari pengertian tersebut secara awal kita dapat mengenal salah satu ciri khas karya ilmiah adalah lewat bentuknya yakni tertulis, baik di buku, jurnal, majalah, surat kabar, maupun yang tersebar di internet, di samping ciri lain yang mesti dipenuhi dalam sebuah karya ilmiah.

Penalaran Ilmiah 
Kemampuan menalarlah yang membedakan manusia dari binatang. Kemampuan menalar ini lah kekuatan manusia yang menyebabkan manusia mampu mengembangkan pengetahuan. Binatang juga mempunyai pengetahuan tetapi hanya terbatas untuk bertahan hidup (survival). Manusia mampu mengembangkan kemampuannya karena dua hal, yaitu yang pertama manusia mempunyai bahasa untuk berkomunikasi dan mampu menyampaikan informasi atau pendapat. Hal yangke 2 manusia mempunyai kemampuan berpikir menurut kerangka berpikir tertentu. 

Ciri-ciri Penalaran :
  1. Adanya suatu pola berpikir yang secara luas dapat disebut logika (penalaran merupakan suatu proses berpikir logis).
  2. Sifat analitik dari proses berpikir. Analisis pada hakikatnya merupakan suatu kegiatan berpikir berdasarkan langkah-langkah tertentu. Perasaan intuisi merupakan cara berpikir secara analitik.
Cara berpikir masyarakat dapat dibagi menjadi 2, yaitu : Analitik dan Non analitik. 
Sedangkan jika ditinjau dari hakekat usahanya, dapat dibedakan menjadi : Usaha aktif manusia dan apa yang diberikan.
Penalaran Ilmiah sendiri dapat dibagi menjadi 2, yaitu :
  1. Deduktif yang berujung pada rasionalisme
  2. Induktif yang berujung pada empirisme  

Penalaran Deduktif adalah cara berfikir yang bertolak dari pernyataan yang  bersifat umum untuk menarik kesimpulan yang bersifat khusus, dengan demikian kegiatan berfikir yang berlawanan dengan induksi.

Penalaran Induktif adalah cara berfikir untuk menarik kesimpulan yang bersifat umum dari pengamatan atas gejala-gejala yang bersifat khusus. 
 
Penalaran dalam suatu karangan ilmiah mencakup 5 aspek/matra. Kelima aspek tersebut
adalah:

a. Aspek keterkaitan
Aspek keterkaitan adalah hubungan antarbagian yang satu dengan yang lain dalam
suatu karangan. Artinya, bagian-bagian dalam karangan ilmiah harus berkaitan satu
sama lain. Pada pendahuluan misalnya, antara latar belakang masalah – rumusan
masalah – tujuan – dan manfaat harus berkaitan. Rumusan masalah juga harus
berkaitan dengan bagian landasan teori, harus berkaitan dengan pembahasan, dan
harus berkaitan juga dengan kesimpulan.

b. Aspek urutan
Aspek urutan adalah pola urutan tentang sesuatu yang harus didahulukan/ditampilkan
kemudian (dari hal yang paling mendasar ke hal yang bersifat pengembangan). Suatu
karangan ilmiah harus mengikuti urutan pola pikir tertentu.Pada bagian Pendahuluan,
dipaparkan dasar-dasar berpikir secara umum. Landasan teori merupakan paparan
kerangka analisis yang akan dipakai untuk membahas. Baru setelah itu persoalan
dibahas secara detail dan lengkap. Di akhir pembahasan disajikan kesimpulan atas
pembahasan sekaligus sebagai penutup karangan ilmiah

c. Aspek argumentasi
Yaitu bagaimana hubungan bagian yang menyatakan fakta, analisis terhadap fakta,
pembuktian suatu pernyataan, dan kesimpulan dari hal yang telah dibuktikan. Hampir
sebagian besar isi karangan ilmiah menyajikan argumen-argumen mengapa masalah
tersebut perlu dibahas (pendahuluan), pendapat-pendapat/temuan-temuan dalam
analisis harus memuat argumen-argumen yang lengkap dan mendalam.

d. Aspek teknik penyusunan
Yaitu bagaimana pola penyusunan yang dipakai, apakah digunakan secara konsisten.
Karangan ilmiah harus disusun dengan pola penyusunan tertentu, dan teknik ini bersifat
baku dan universal.

e. Aspek bahasa
Yaitu bagaimana penggunaan bahasa dalam karangan tersebut? baik dan benar? Baku?
Karangan ilmiah disusun dengan bahasa yang baik, benar dan ilmiah. Penggunaan
bahasa yang tidak tepat justru akan mengurangi kadar keilmiahan suatu karya sastra
lebih-lebih untuk karangan ilmiah akademis.

Beberapa ciri bahasa ilmiah: kalimat pasif, sebisa mungkin menghindari kata ganti diri
(saya, kami, kita), susunan kalimat efektif/hindari kalimat-kalimat dengan klausa-klausa
yang panjang.

Penalaran dengan Penulisan Ilmiah
Karya tulis ilmiah adalah tulisan yang didasari oleh pengamatan, peninjauan atau penelitian dalam bidang tertentu, disusun menurut metode tertentu dengan sistematika penulisan yang bersantun bahasa dan isinya dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.
Atas dasar itu, sebuah karya tulis ilmiah harus memenuhi tiga syarat:
1. Isi kajiannya berada pada lingkup pengetahuan ilmiah
2. Langkah pengerjaannya dijiwai atau menggunakan metode ilmiah
3. Sosok tampilannya sesuai da telah memenuhi persyaratan sebagai suatu sosok tulisan keilmuan.
Dari pengertian tersebut dapat diketahui bahwa penalaran menjadi bagian penting dalam proses melahirkan sebuah karya ilmiah. Penalaran dimaksud adalah penalaran logis yang mengesampingkan unsur emosi, sentimen pribadi atau sentimen kelompok. Oleh karena itu, dalam menyusun karya ilmiah metode berpikir keilmuan yang menggabungkan cara berpikir/penalaran induktif dan deduktif, sama sekali tidak dapat ditinggalkan.
Metode berpikir keilmuan sendiri selalu ditandai dengan adanya:
1. Argumentasi teoritik yang benar, sahih dan relevan
2. Dukungan fakta empirik
3. Analisis kajia yang mempertautkan antara argumentasi teoritik dengan fakta empirik terhadap permasalahan yang dikaji.


  

DAFTAR PUSTAKA :
http://mayaanurlita.blogspot.com/2013/03/tugas-bahasa-indonesia-2.html

MATERI METODE ILMIAH & SIKAP ILMIAH

1. Pengertian Metode Ilmiah 
    Metode ilmiah adalah suatu proses atau cara keilmuan dalam melakukan proses ilmiah (science project) untuk memperoleh pengetahuan secara sistematis berdasarkan bukti fisis.Cara untuk memperoleh pengetahuan atau kebenaran pada metode ilmiah haruslah diatur oleh pertimbangan- pertimbangan yang logis (McCleary, 1998). 

Unsur utama metode ilmiah adalah pengulangan emapt langkah :
1. Karakterisasi (pengamatan dan pengukuran)
2. Hipotesis (penjelasan teoritis yang merupakan dugaan atas hasil pengamatan dan pengukuran)
3. Prediksi ( deduksi logis dari hipotesis)
4. Eksperimen (pengujian atas semua hal diatas)

Karateristik Metode Ilmiah
Menurut sumber ada beberapa karateristik metode ilmiah, yaitu
1. Bersifat kritis artinya metode menunjukan adanya proses yang tepat untuk m,enghidentifikasi masalah dan
    menentukan metode untuk pemecahan masalah.
2. Bersifat logis artinya dapat memberikan argumentasi ilmiah
3.Kesimpulan yang dibuat secara rasional berdasarkan bukti-bukti yang tersedia
4.Bersifat obyektif artinya dapat dicontoh oleh ilmuan lain dalam studi yang sama dengan kondisi yang sama 
   pula. 
5.Bersifat konseptual artinya proses penelitian dijalankan dengan pengembangan konsep dan teori agar
   hasilnya dapat dipertanggungjawabkan
6.Bersifat empiris artinya metode yang didasarkan pada fakta yang dilapangan.


Langkah-langkah Metode Ilmiah

Adapun langkah-l;angkah dalam penyusunan metode ilmiah :
1. Menyusun Rumusan Masalah
2. Menyusun Kerangka Teori
3. Merumuskan Teori
4. Melakukan Eksperimen
5. Mengolah dan Menganalisis data
6. Menarik Kesimpulan
7. Mempublikasikan Hasil


Pola Pikir dalam Metode Ilmiah :
1.  Induktif: Pengambilan kesimpulan dari kasus yang bersifat khusus menjadi kesimpulan yang bersifat umum
2.  Deduktif: Pengambilan kesimpulan dari hal yang bersifat umum menjadi kasus yang bersifat khusus


 2. Pengertian Sikap Ilmiah
    Sikap ilmiah merupakan sikap yang harus ada pada diri seorang ilmuwan atau akademisi ketika
    menghadapi persoalan-persoalan ilmiah. Sikap ilmiah ini perlu dibiasakan dalam berbagai forum ilmiah, 
    misalnya dalam diskusi, seminar, loka karya, dan penulisan karya ilmiah

    Sikap ilmiah yang harus dimiliki oleh seorang pengamat saintis antara lain :
      1. Mencintai kebenaran
      2. Tidak buruk sangka
      3. Bersifat toleran terhadap orang lain
      4. Ulet
      5. Teliti dan hati-hati
      6. Ingin tahu
      7. Optimis

Prof Harsojo menyebutkan enam macam sikap ilmiah yaitu:
1. Obyektifitas dalam peninjauan yang penting adalah objeknya
2. Sikap serba relatif, ilmu tidak mempunyai maksud mencari kebenaran mutlak, ilmu berdasarkan 
    kebenaran-kebenaran ilmiah atas beberapa postulat, secara priori telah diterima sebagai suatu
    kebenaran. Malahan teori-teori dalam ilmu sering untuk mematahkan teori yang lain
3. Sikap skeptis adalah sikap untuk selalu ragu-ragu terhadap pernyataan pernyataan yang belum
    cukup kuat dasar-dasar pembuktiannya.
4. Kesabaran intelektual , sanggup menahan diri dan kuat untuk tidak menyerah pada tekanan 
    agar dinyatakan suatu pendirian ilmiah , karena memang belum selesainya dan cukup 
    lengkapnya hasil dari penelitian , adalah sikap seorang ilmuwan.
5. Kesederhanaan adalah sikap cara berfikir, menyatakan, dan membuktikan
6. Sikap tidak memihak pada etik.

Sikap ilmiah dikelompokkan menjadi 2, yaitu:

1.Seperangkat sikap yang menekankan sikap tertentu terhadap sains sebagai suatu cara memandang dunia 
   serta dapat berguna bagi pengembangan karir di masa datang.
2.Seperangkat sikap yang jika diikuti akan membantu proses pemecahan masalah.


DAFTAR PUSTAKA :
http://www.slideshare.net/ridwanawawaw/makalah-keterbatasan-metode-ilmiah 
http://rico4hands.blogspot.com/2012/12/isd.html
http://gatotbukankaca.weebly.com/bahasa-indonesia-2-bersikap-ilmiah.html
http://aliyanuzul.wordpress.com/ipa-1/metode-ilmiah-dan-benda-benda-alam/inti/sifat-metode-ilmiah/
https://www.facebook.com/permalink.php?id=380746885301057&story_fbid=420460174663061



MATERI PENALARAN


Teori Yang Berhubungan Dengan Penalaran

Pengertian Penalaran
Penalaran adalah proses berpikir yang bertolak dari pengamatan indera (pengamatan empirik) yang menghasilkan sejumlah konsep dan pengertian. Berdasarkan pengamatan yang sejenis juga akan terbentuk  proposisi yang sejenis, berdasarkan sejumlah proposisi yang diketahui atau dianggap benar, orang menyimpulkan sebuah proposisi baru yang sebelumnya tidak diketahui. Proses inilah yang disebut menalar.
Dua macam jenis metode penalaran, yaitu :
1. Penalaran Induktif
2. Penalaran Deduktif 

Pengertian Penalaran Induktif adalah cara menarik kesimpulan umum dari hal-hal yang  bersifat khusus
Contoh dari Penalaran Induktif : 
     Premis 1 : Kuda Sumba punya sebuah jantung
     Premis 2 : Kuda Australia punya sebuah jantung
     Premis 3 : Kuda Amerika punya sebuah jantung
     Premis 4 : Kuda Inggris punya sebuah jantung
     Konklusi : Setiap kuda punya sebuah jantung

Aspek dari penalaran induktif adalah analogi dan generalisasi. Menurut Jacob (dalam Shofiah, 2007 :15), hal ini berdasarkan bahwa penalaran induktif terbagi menjadi dua macam, yaitu generalisasi dan analogi.
1.Analogi adalah proses penyimpulan berdasarkan kesamaan data atau fakta. Analogi    dapat juga dikatakan sebagai proses membandingkan dari dua hal yang berlainan berdasarkan kesamaannya, kemudian berdasarkan kesamaannya itu ditarik suatu kesimpulan.

2.Generalisasi adalah pernyataan yang berlaku umum untuk semua atau sebagian besar gejala yang diminati generalisasi mencakup ciri – ciri esensial, bukan rincian. Dalam pengembangan karangan, generalisasi dibuktikan dengan fakta, contoh, data statistik, dan lain-lain.
Macam – macam generalisasi :
  • Generalisasi sempurna adalah generalisasi dimana seluruh fenomena yang menjadi dasar penimpulan diselidiki. Generalisasi macam ini memberikan kesimpilan amat kuat dan tidak dapat diserang. Tetapi tetap saja yang belum diselidiki.
  • Generalisasi tidak sempurana adalah generalisasi berdasarkan sebagian fenomena untuk mendapatkan kesimpulan yang berlaku bagi fenomena sejenis yang belum diselidiki.

Pengertian Penalaran Deduktif adalah cara menarik kesimpulan khusus dari hal-hal yang bersifat umum
Contoh dari Penalaran Deduktif :
     Premis 1 : Setiap mamalia punya sebuah jantung
     Premis 2 : Semua kuda adalah mamalia
     Konklusi : Setiap kuda punya sebuah jantung

Macam-macam penalaran deduktif diantaranya : 

a.Silogisme
Silogisme adalah suatu proses penarikan kesimpulan secara deduktif. Silogisme disusun dari dua proposi (pernyataan) dan sebuah konklusi (kesimpulan). Dengan fakta lain bahwa silogisme adalah rangkaian 3 buah pendapat, yang terdiri dari 2 pendapat dan 1 kesimpulan. 

b.Entimen
Entimen adalah penalaran deduksi secara langsung. Dan dapat dikatakan pula silogisme premisnya dihilangkan atau tidak diucapkan karena sudah sama-sama diketahui.
Rumus Entimen:
PU : Semua A = B : Pegawai yang baik tidak pernah datang terlambat.
PK : Nyoman pegawai yang baik.
S : Nyoman tidak pernah datang terlambat
Entimen : Nyoman tidak pernah datang terlambat karena ia pegawai yang baik

Konsep dan Simbol Dalam Penalaran

Penalaran juga merupakan ativitas pikiran yang abstrak, untuk mewujudkannya diperlukan simbol. Simbol atau lambang yang digunakan dalam penalaran berbentuk bahasa, sehingga wujud penalaran akan berupa argumen.
Kesimpulannya, adalah pernyataan atau konsep adalah abstrak dengan simbol berupa kata, sedangkan untuk proposisi simbol yang digunakan adalah kalimat (kalimat berita) dan penalaran menggunakan simbol berupa argumen. Argumenlah yang dapat menentukan kebenaran konklusi dari premis.
Berdasarkan paparan diatas jelas bahwa tiga bentuk pemikiran manusia adalah aktivitas berpikir yang saling berkait. Tidak ada proposisi tanpa pengertian dan tidak akan ada penalran tanpa proposisi. Bersama-sama dengan terbentuknya pengertian perluasannya akan terbentuk pula proposisi dan dari proposisi akan digunakan sebagai premis bagi penalaran. Atau dapat juga dikatakan untuk menalar dibutuhkan proposisi sedangkan proposisi merupakan hasil dari rangkaian pengertian.


DAFTAR PUSTAKA :